CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo

Cara Memulai Digital Detox atau Puasa Medsos

By Isny Dewi R

07 September 2020

Seseorang perlu melakukan digital detox apabila ia sudah terlalu sering membuka media sosial hingga mengganggu aktivitas sehari-hari maupun dirinya sendiri.

Photo source: Pexels
 
 
Meski ada manfaatnya, namun, terlalu sering membuka media sosial tidak lah baik bagi kesehatan mental. “Menatap smartphone mungkin menyenangkan saat ini, tetapi "perilaku yang menyenangkan itu membuat ketagihan," kata David Greenfield, PhD, asisten profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Connecticut dan pendiri Center for Internet and Technology Addiction, dilansir dari Health.com.
 
Satu studi dari American Psychological Association menemukan bahwa hampir seperlima orang mengatakan teknologi adalah sumber stres. Lalu ada efek fisik potensial dari "selalu aktif", dari sakit leher, muncul kerutan, hingga tekanan darah tinggi.
 
Tetapi meninggalkan smartphone? Nampak seperti hal yang mustahil. Para ahli setuju bahwa Anda tidak perlu berhenti menggunakan smartphone, Anda hanya perlu melakukan digital detox atau puasa media sosial sebagai upaya untuk membuat diri lebih tenang dan fokus. Bisa dikatakan, seseorang perlu melakukan digital detox apabila ia sudah terlalu sering membuka media sosial hingga mengganggu aktivitas sehari-hari maupun dirinya sendiri.
 
Melansir Health.com, berikut cara melakukan puasa medsos atau digital detox.
 
1. Matikan Notifikasi Push
Mendapatkan update terus-menerus tentang apa yang terjadi memang informatif, tetapi juga mengganggu. "Jika Anda membiarkan diri Anda diinterupsi lima kali dalam setengah jam, Anda tidak pernah benar-benar fokus pada waktu itu," kata Jesse Fox, PhD, kepala Lingkungan Virtual, Teknologi Komunikasi, dan Riset Online Universitas Negeri Ohio (VECTOR) Lab. Salah satu perbaikan yang mudah adalah mematikan notifikasi sebanyak yang Anda bisa tanpanya.
 
2. Ubah Menjadi Hitam dan Putih
Salah satu alasan smartphone ataupun gawai lainnya begitu memikat adalah karena warnanya yang dinamis. Buatlah gawai Anda bernuansa retro, menurut rekomendasi Greenfield. Banyak ponsel cerdas sekarang memungkinkan Anda untuk mengubah pengaturan sehingga seluruh ponsel muncul dalam nuansa abu-abu.
 
3. Singkirkan Ponsel Anda saat Makan
Ini adalah pemandangan umum di restoran, smartphone diletakkan di samping piring. Namun, penelitian menunjukkan bahwa, bahkan jika kita tidak memeriksa ponsel kita, meletakkannya di atas meja selama percakapan dapat mengurangi kualitas interaksi. Otak kita hanya menunggu untuk menyala, dan sebagai hasilnya, kita tidak sepenuhnya hadir. "Semakin banyak energi yang kita arahkan ke perangkat kita, semakin sedikit energi yang kita arahkan ke siapa pun yang ada di ruangan bersama kita," jelas Elisabeth LaMotte, pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Pusat Konseling dan Psikoterapi DC.
 
4. Tentukan Waktu ‘Bebas Teknologi’
Banyak dari kita merasa ‘hampa’ saat kita tidak memiliki perangkat, tetapi berhenti dari teknologi dapat memberikan keajaiban bagi kesejahteraan kita. "Mulailah dengan menetapkan waktu tertentu setiap hari yang bebas teknologi, seperti saat Anda makan siang," kata Adam Alter, PhD, seorang profesor di NYU dan penulis Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked. "Kemudian lihat bagaimana perasaan Anda setelah seminggu atau lebih. Kebanyakan orang merasa senang dengan perubahan itu, dan mereka akan terus mengembangkannya."
 
5. Jadikan Kamar Tidur Anda sebagai Zona Bebas Teknologi
"Kebanyakan orang menggunakan ponsel mereka untuk jam alarm," kata Dr. Greenfield. Namun saat Anda meraih ponsel untuk mematikannya, Anda akan tergoda untuk membuka medsos. Bahkan, yang terbaik adalah meninggalkan ponsel Anda di luar kamar pada malam hari dan memilih menggunakan jam wekker. Jadikan tempat tidur Anda sebagai zona bebas perangkat. Anda juga akan tidur lebih nyenyak. Cahaya biru layar menipu otak kita untuk berpikir bahwa ini adalah siang hari, yang membuatnya lebih sulit untuk tertidur.
 
6. Membaca Buku atau Koran
Jika Anda pernah memperhatikan bahwa membaca buku terasa lebih memuaskan daripada membaca tablet, Anda tidak sedang membayangkan sesuatu. Buku tidak hanya menawarkan gangguan yang lebih sedikit, tetapi penelitian menunjukkan bahwa ketika kita membaca di atas kertas, pikiran kita memproses informasi abstrak dengan lebih efektif. Selain itu, pertimbangkan untuk mendapatkan berita Anda dari surat kabar, kata Gretchen Rubin, penulis buku terlaris The Happiness Project dan Better Than Before.

Share this article?

MUST SEE