CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo
FYI

Gejala Awal Meningitis yang Sering Tidak Disadari

By Eskanisa R

08 September 2020

Jangan sepelekan gejala-gejala ini.

Sumber foto: Kidspot

Dewasa, anak-anak, dan bayi pun tidak telepas dari ancaman penyakit mematikan ini. Meningitis merupakan peradangan yang terjadi di selaput-selaput otak (meningen) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang, melansir Mayo Clinic
Selain dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur atau parasit, meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit lain yang dapat memicu peradangan pada selaput otak tanpa adanya infeksi seperti kanker dan obat-obatan tertentu.
 
Seseorang dengan sistem imun lemah paling berisiko mengalami meningitis. Sebab, sistem kekebalan tubuh berperan penting menangkal bakteri atau virus yang masuk. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya dibanding yang disebabkan oleh virus. Sebab, bakteri pneumokokus yang memang hidup dalam 10 persen orang sehat—bayi, balita maupun dewasa bisa mengakibatkan kematian (khususnya pada anak-anak).
 
Gejalanya sendiri hampir menyerupai gejala flu seperti sakit kepala, demam, dan pegal. Ketika infeksi mulai berkembang, pengidap dewasa mulai merasakan nafsu makan menurun, leher dan punggung kaku, sensitif terhadap cahaya, infeksi saluran pernapasan atas (sakit tenggorokan) mudah marah, muntah dan kejang, melansir MedlinePlus.
 
Sementara gejala pada bayi dan anak-anak meliputi rewel bahkan setelah digendong, nafsu makan berkurang, adanya tonjolan pada bagian ubun-ubun, mual, muntah, kaku pada tubuh dan kejang. Meski belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini, ada dugaan kuat jika infeksi—yang berasal dari dalam dan luar otak—dan sistem imun lemah menjadi penyebabnya.
 
Infeksi yang menimbulkan penyakit seperti virus herpes simpleks (menyebabkan herpes di mulut dan kelamin) sering kali ditemukan pada kasus meningitis. Demikian juga dengan virus campak dan rubella yang juga bisa menyebabkan meningitis. Di mana virus tersebut dapat berpindah lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, kontak kulit, gigitan serangga atau menular ketika menghirup cairan hidung, mulut, dan tenggorokan pengidap. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh kondisi kronis HIV yang menyebabkan peradangan secara bertahap, autoimun, dan infeksi, melansir Halodoc.   

Share this article?

MUST SEE