CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo

Jenis Olahraga yang Disarankan WHO selama Pandemi

By Isny Dewi R

29 December 2020

WHO merilis pedoman berolahraga bagi orang dewasa di tengah pandemi COVID-19. Adapun durasi yang disarankan yakni selama 150 menit atau 2,5 jam setiap minggu.

Photo source: Pexels
 
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu merilis pedoman berolahraga bagi orang dewasa di tengah pandemi COVID-19. Adapun durasi berolahraga yang disarankan yakni selama 150 menit atau 2,5 jam setiap minggu.
 
Melansir CNN, pedoman berolahraga ini dirilis saat dunia tengah mengalami lonjakan kasus COVID-19 secara signifikan. Sebelumnya, WHO menyarankan agar masyarakat berusia 18 – 64 tahun melakukan olahraga selama 150 menit atau minimal 75 menit olahraga berat setiap minggu. Tujuannya, agar tubuh tetap sehat dan fit.
 
Selain itu, WHO juga mengimbau masyarakat untuk berolahraga secara aktif, apa pun gerakannya. Hal ini dinilai lebih baik dibanding tidak berolahraga sama sekali. Masyarakat dapat melakukan olahraga yang paling ringan, sampai meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi dari waktu ke waktu.
 
Sementara itu, olahraga yang direkomendasikan WHO untuk orang dewasa berusia hingga 64 tahun adalah latihan aerobik berat per minggu. Jenis olahraga ini juga dapat membantu mengurangi risiko kematian dini, penyakit jantung, hipertensi, kanker, dan diabetes tipe 2. Dengan durasi setidaknya selama 150 – 300 menit, atau minimal 75 – 150 menit untuk olahraga berat.
 
Pedoman dari WHO ini juga merekomendasikan bahwa orang berusia lanjut, yakni usia 65 tahun ke atas dianjurkan untuk setidaknya berolahraga selama 150 – 300 menit dengan intensitas sedang per minggu.
 
Khusus untuk lansia, diperlukan adanya bimbingan berolahraga karena mereka harus memprioritaskan latihan keseimbangan dan kekuatan selama beberapa hari dalam seminggu. Ini bertujuan untuk mencegah jatuh dan cedera, serta penurunan performa kesehatan dan kekuatan tulang.
 
Sementara itu, bagi wanita hamil dan nifas juga disarankan untuk aktif bergerak selama dan setelah kehamilan, karena bermanfaat bagi ibu dan bayi. Aktivitas ini dapat menurunkan risiko diabetes gestasional, komplikasi persalinan, dan depresi pascapersalinan.
 
Sebuah laporan menyebutkan, jika wanita hamil dan pasca-persalinan tidak memiliki kondisi atau komplikasi yang mendasarinya, maka mereka perlu melakukan setidaknya 150 menit aerobik dan penguatan sedang per minggu. Yang perlu diperhatikan, wanita hamil harus terhidrasi cukup guna menghindari aktivitas berisiko secara fisik, dan mencegah gejala yang dapat menyebabkan pusing, kontraksi menyakitkan, atau pendarahan.
 
Sementara itu, WHO menyarankan, anak-anak hingga remaja berusia 17 tahun untuk berolahraga setidaknya 60 menit setiap hari. Menurut rekomendasi tersebut, jenis olahraga yang disarankan untuk anak-anak hingga remaja adalah aerobik, seperti jogging atau bersepeda.
 
Menilik sikap anak-anak yang cenderung bosan atau enggan untuk berolahraga, orangtua dapat membujuknya dengan istilah "bermain". Peneliti Utama Psikiatri di University College London, Joseph Hayes, mengungkapkan, jika orang tua mampu mendorong anak-anak untuk berolahraga dengan mempertimbangkan kesehatan mental mereka, mungkin lebih efektif, ketimbang menjelaskan dampak kesehatan fisik kepada anak-anak.

Share this article?

MUST SEE