CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo
FYI

Mengenal Toxic Positivity dan Cara Menghindarinya

By Eskanisa R

15 December 2020

Ketika penyangkalan atau kata-kata penyemangat menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sumber foto: Pixabay
 
Belakangan ini muncul istilah baru yang ramai diperbincangkan di media sosial, toxic positivity. Istilah ini mengacu pada perilaku seseorang yang mengatakan bahwa berpikir positif, tidak merasa sedih, dan tetap semangat merupakan cara ideal saat menghadapi masalah atau situasi negatif yang memancing emosi.
 
Melansir laman Psychology Today, toxic positivity fokus pada hal-hal positif untuk menjaga pikiran dan sikap dalam menjalani hidup. Padahal konsep ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, bahagia, dan baik-baik saja.
 
Toxic positivity biasanya berupa kalimat-kalimat ‘penyemangat’ seperti “Semua akan baik-baik saja”, “Semua pasti ada hikmahnya”, “Bersyukur, masih banyak yang lebih menderita.” Padahal sebenarnya, kalimat-kalimat tersebut justru dapat menimbulkan dampak emosional pada seseorang yang keadaannya sedang tidak baik-baik saja, karena ‘dipaksa’ untuk menyangkal kesedihan, kecemasan, atau ketakukan yang dirasakan.
 
Menurut seorang psikolog bernama Paul Eckman, manusia memiliki enam emosi dasar, yakni kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, jijik, dan kejutan. Keenam emosi tersebut membuat manusia belajar untuk memproses semua hal yang terjadi dalam hidup serta membentuk perasaan.
 
Dengan kata lain, manusia tidak diciptakan hanya untuk merasakan kebahagiaan (positif) saja. Ketika seseorang ‘dipaksa’ untuk menyangkal dan tidak dapat mengekspresikan emosi yang sebenarnya, ia berisiko membuat masalah yang lebih besar di kemudian hari, seperti bola salju yang menggelinding dan akan terus membesar.
 
Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari toxic positivity?
 
Alih-alih mengabaikan emosi, sebaiknya ‘nikmati’, terima keadaan (masalah) yang sedang terjadi. Berusaha tetap tenang dan tidak terlarut dalam kesedihan. Setelahnya, Anda bisa mencoba melihat masalah tersebut dari sisi lain yang lebih baik. Temukan solusi yang tepat untuk bangkit kembali, seperti cerita dengan orang-orang terdekat agar perasaan lebih lega.

Share this article?

MUST SEE