CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo
FYI

Sejarah Layang-layang yang Kembali Diminati selama Pandemi

By Isny Dewi R

02 October 2020

Layang-layang menjadi salah satu permainan tradisional yang kembali diminati selama wabah COVID-19 menerpa Indonesia.

Photo source: Pixabay
 
 
Layang-layang menjadi salah satu permainan tradisional yang kembali diminati selama wabah COVID-19 menerpa Indonesia. Layang-layang kini kembali menghiasi langit di berbagai kota, tak terkecuali di Jakarta. Yang memainkannya pun tak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. Terlepas dari itu, tahukah Anda seperti apa sejarah layang-layang awalnya?
 
Mengutip Encyclopedia Britannica, layang-layang pertama kali populer di China sekitar 3.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, bahan-bahan yang ideal untuk membuat layang-layang sudah ada. Bahan-bahan tersebut seperti kain sutra untuk membuat layar, sutra dengan kekuatan tensil tinggi untuk jalur terbang, dan bambu tangguh untuk membuat kerangka yang kuat dan ringan.
 
Layang-layang Cina yang paling awal diketahui berbentuk datar (tidak membungkuk) dan persegi panjang. Setelah itu, layang-layang mulai merambah ke negara-negara lain seperti Korea, Jepang, Myanmar, India, Arab, Afrika Utara, kemudian lebih jauh ke semenanjung Malaysia, Indonesia, dan pulau-pulau Oseania di timur Pulau Paskah.
 
Melansir Kompas.com, salah seorang pemandu di Museum Layang-Layang Jakarta, Asep Irawan menuturkan, menurut hasil penelitian arkeolog nasional tahun 1981, 1986, dan 1991, layang-layang di Indonesia pertama kali muncul di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Layang-layang tersebut terbuat dari daun gadung yang dirajut dan dibentuk layang-layang. Awalnya, masyarakat Sulawesi Tenggara menggunakannya untuk mencari keberadaan Tuhan di langit.
 
Menghimpun situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), layang-layang adalah sejenis permainan yang dimainkan anak-anak maupun orang dewasa. Pada umumnya, layang-layang ini dimainkan pada musim angin kencang karena apabila tidak ada angin tidak bisa terbang.
 
Selain angin yang kencang, seseorang juga harus terampil agar bisa menerbangkan layang-layang. Jika tidak memperhatikan hal-hal tersebut maka layang-layang akan sulit terbang. Biasanya lapangan terbuka dan luas menjadi tempat favorit untuk menerbangkan layangan. Karena di tempat itu anginnya lebih kencang dan tidak ada benda apapun yang menghalangi layangan saat terbang seperti kabel, pohon, atau rumah penduduk.
 
Layang-layang tidak ada kaitannya dengan peristiwa sosial tertentu dan tidak memiliki unsur religius-magis di dalamnya. Melainkan sekadar permainan dan hiburan untuk mengisi waktu luang.
 
Menurut laman Kemdikbud, layang-layang juga mempunyai ciri khas, antara lain:
- Terdapat dua pasang sisi yang sama panjang.
- Terdapat sepasang sudut berhadapan yang sama besar.
- Terdapat satu sumbu simetri yang merupakan diagonal terpanjang.
- Salah satu dari diagonalnya membagi dua sama panjang diagonal lainnya secara tegak lurus.
- Diagonal-diagonal yang dimiliki oleh bangun layang-layang saling tegak lurus.
- Diagonal yang menghubungkan sudut puncak membagi dua bagian sudut-sudut puncak dan layang-layang menjadi dua buah bagian yang besarnya sama.

Share this article?

MUST SEE