CheckInJakarta Logo CheckInJakarta Logo

Tips Memilih Reksadana untuk Pemula

By Isny Dewi R

05 January 2021

Cara memilih reksa dana yang tepat untuk pemula.

Photo source: Pexels
 
 
Apakah Anda tertarik untuk memulai investasi tapi masih bingung memilih instrumen mana yang paling tepat? Jika ya, mungkin reksa dana bisa jadi pilihan yang cerdas. Lantaran instrumen ini cocok untuk para pemula karena dana yang disetor nantinya akan dikelola oleh Manajer Investasi profesional.
 
Mengutip laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, reksa dana merupakan salah satu wadah yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana.
 
Dengan berinvestasi lewat reksadana, Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan seperti memiliki instrumen investasi yang terdiversifikasi otomatis, modal awal investasi yang kecil, bisa di-topup dan dicairkan kapan saja, serta bebas pajak.
 
Secara sederhana, dengan berinvestasi melalui reksadana, masyarakat akan memberikan iuran. Setelah terkumpul, dana iuran tersebut akan dikelola sebagai bentuk investasi oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek.
 
Reksa dana sendiri ada banyak jenisnya jika dilihat dari portofolio efeknya. Ada reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, reksa dana dengan penjaminan, hingga Exchanged Traded Fund (ETF).
 
Untuk Anda yang masih awam, berikut cara memilih reksa dana yang tepat untuk pemula, dilansir dari Lifepal:
 
1. Kenali Betul Manajer Investasi Pengelola Reksa Dana
Prospektus pada produk reksadana berisi banyak informasi terkait pengelolaan reksa dana, pembatasan investasi, hingga orang-orang di balik perusahaan manajer investasi tersebut.
 
Mencari tahu rekam jejak manajer investasi (MI) menjadi hal penting yang harus Anda. Di era keterbukaan informasi seperti sekarangini, bukan lah hal sulit untuk mengetahui apakah MI yang akan Anda pilih pernah terlibat kasus, atau pelanggaran hukum.
 
Anda juga harus mencari tahu jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) perusahaan manajer investasi tersebut. Jika perusahaan MI memiliki jumlah AUM yang besar, itu menandakan tingginya kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut. Sebab, investor tidak akan mempercayakan dana mereka begitu saja untuk dikelola oleh MI dengan kinerja yang buruk.
 
2. Perhatikan Sharpe Rasio
Ketika seseorang memilih instrumen investasi dengan volatilitas tinggi, maka ia juga mengharapkan imbal hasil yang tinggi. Sharpe ratio bisa digunakan untuk mengetahui tingkat risiko reksa dana. Meski demikian, tidak ada patokan berapa sharpe ratio terbaik.
 
Sharpe ratio sendiri merupakan rasio untuk mengukur kinerja reksa dana dengan perbandingan imbal hasil dan risiko (standar deviasi). Semakin tinggi sharpe ratio maka akan semakin baik pula kinerja reksa dana tersebut.
 
Jika Anda menemukan nilai sharpe ratio negatif pada produk reksadana, maka disarankan untuk memilih reksadana yang memiliki sharpe ratio negatif paling kecil. Sharpe ratio yang negatif menandakan tingkat risiko lebih besar dibanding tingkat pengembalian.
 
Jika Anda membeli reksadana di platform milik agen penjual efek reksadana atau perusahaan sekuritas, Anda dapat melihat nilai rasio pada daftar reksa dana. Nilai sharpe ratio pun dapat berubah. Bisa saja satu reksa dana saham memiliki nilai sharpe ratio yang tinggi dalam waktu tiga bulan namun minus di periode satu tahun.
 
3. Perhatikan Nilai Draw Down
Draw down bisa diartikan sebagai tingkat kerugian maksimal pada produk reksadana, atau bisa juga dimaknai sebagai tingkat penurunan kinerja dari titik puncaknya ke titik terendah. Apabila sebuah produk reksa dana memiliki nilai draw down sebesar 30 persen setahun, berarti kinerjanya pernah mengalami penurunan sebesar 30 persen.
 
Nilai draw down bisa dipengaruhi oleh time frame. Untuk sebagian besar reksa dana pasar uang, nilai draw down ada di angka 0 koma sekian. Namun, ada pula yang memiliki nilai 0,00 persen.
 
4. Waspadai Expense Ratio Reksadana
Expense ratio juga disebut sebagai perbandingan beban operasional reksa dana dengan rata-rata NAB (Nilai Aktiva Bersih) dalam setahun. Pengelolaan sebuah reksadana tentu akan memunculkan biaya, seperti biaya kustodian, trading, marketing, dan lainnya. Jika expense ratio reksa dana semakin kecil, maka itu menandakan Manajer Investasi handal dalam mengelola produknya.
 
5. Pilih Reksadana Sesuai Jangka Waktu Investasi Anda
Semakin pendek jangka waktu investasi, maka pilihan reksa dana yang akan disarankan adalah reksadana dengan volatilitas NAB rendah. Jika memilih jangka panjang, maka pilihannya akan lebih fleksibel, bisa memilih reksa dana dengan volatilitas rendah atau yang tinggi karena mengharap imbal hasil yang besar.
 
Untuk jangka waktu pendek (1-3 tahun), sangat disarankan untuk memilih reksa dana dengan fluktuasi yang rendah seperti reksa dana pasar uang, atau pendapatan tetap. Untuk jangka menengah (3-5 tahun), disarankan untuk memilih reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, dan campuran. Sementara itu, untuk kebutuhan dana pendidikan (di atas 5 tahun), maka reksadana saham patut dipertimbangkan.

Share this article?

MUST SEE