< FYI

5 Film Horor Indonesia ini Patut Diacungi Jempol

5 Film Horor Indonesia ini Patut Diacungi Jempol

FYI

Pada tahun 1980-an, genre film horor mulai menjadi favorit bagi para penikmat film di Indonesia. Nuansa seram, menegangkan, dan memacu detak jantung membuat penikmat film ketagihan menonton film jenis ini. Hal tersebut masih berlanjut hingga sekitar tahun 2000-an di mana film horor masih menjadi primadona. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya banyak bermunculan film-film horror berpadu nuansa erotis yang lebih mengedepankan sisi sensualitas perempuan ketimbang sisi horornya.

Demi mendongkrak penonton, bahkan ada rumah produksi yang sampai menggunakan jasa bintang film panas dari Jepang untuk bermain di filmnya. Selain didominasi unsur sensual, kemerosotan film horor di tanah air juga disebabkan oleh banyaknya film yang cerita dan setting-nya tidak menarik, serta terkesan mudah ditebak.

Meski begitu, masih ada beberapa film horror buatan anak bangsa yang patut diacungi jempol. Apa sajakah itu?

1. Jelangkung
Pada tahun 2001, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo membuat film horor yang berhasil menarik 5 juta lebih penonton. Jelangkung juga pernah tercatat sebagai film dengan pendapatan paling besar dengan jumlah sekitar Rp 5 miliar. Wow! Jumlah itu bertahan sekitar 7 tahun hingga akhirnya dikalahkan oleh Laskar Pelangi yang tayang pada tahun 2008.

Kesuksesan Jelangkung seolah menjadi oase di tengah krisis film horor yang pada saat itu hanya megandalkan wajah hantu yang menakutkan. Jelangkung sukses tampil berbeda dengan menghadirkan ketegangan melalui cerita, kamera, efek spesial, lokasi yang mendukung, serta akting Winky Wiryawan, Melanie Ariyanto, Rony Dozer, dan Harry Pantja yang mengagumkan.

Awalnya, Jelangkung hanyalah film pendek yang akan ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta, tetapi ketika diputar, animo masyarakat ternyata begitu besar, akhirnnya film inipun dilirik oleh Harris Lesmana, pemilik jaringan Bioskop 21, dan tertarik membeli hak tayang Jelangkung.

Yang membuat Jelangkung begitu diminati adalah para pemeran utama yang pada saat itu masih muda, penonton yang juga didominasi anak muda dan mahasiswa pun menjadi penonton terbanyak film ini. Selain itu, Jelangkung juga berhasil mengangkat kehidupan remaja modern dan memperkenalkan musik pop ke dalam film. Hal yang pada saat itu jarang dilakukan.

 

Photo Source: https://id.wikipedia.org

Jelangkung sendiri bercerita tentang empat sekawan dengan karakter berbeda, Ferdi (Winky Wiryawan), Gita (Melanie Ariyanto), Gembol (Rony Dozer), dan Soni (Harry Pantja) yang selalu penasaran dan ingin sekali bertemu makhluk halus di tempat-tempat angker. Mereka telah mendatangi berbagai tempat yang dikabarkan berhantu, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Lelah tidak menemukan apa yang dicari, mereka mendapatkan informasi tentang sebuah desa bernama Angkerbatu, di daerah Jawa Barat yang dikabarkan sangat angker. Mereka pun memutuskan pergi ke sana. Dan di sanalah semua masalah bermula.

2. Pocong 2
Pocong 2 disebut-sebut menjadi salah satu film horor Indonesia terbaik. Film ini diproduksi oleh Sinemart dan dibintangi Revalina S. Temat dan Risty Tagor sebagai pemeran utama. Pocong 2 muncul pertama kali di bioskop pada tanggal 28 Desember 2006. Film ini direncanakan akan tayang pada tahun 2007. Namun, (LSF) Lembaga Sensor Film melarang film ini disedarkan, oleh sebab itu, Sinemart mempercepat jadwal produksi film Pocong 2. Sinemart juga mempercepat produksi untuk merilis 3 film sekaligus dalam satu tahun, Sehingga di tahun 2006, Sinemart merilis film Jomblo, Mendadak Dangdut, termasuk Pocong 2.

Film ini disutradai oleh Rudi Soedjarwo dan naskahnya ditulis oleh Monty Tiwa. Keduanya juga terlibat dalam pembuatan film Pocong 1 yang dilarang beredar. Pocong 2 dibintangi oleh Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Dwi Sasono, Henidar Amroe, dan Risty Tagor.

Pocong 2 berkisah tentang dua perempuan kakak beradik yang bernama Maya dan Andin yang menempati apartemen baru dengan harga sewa yang sangat murah. Di apartemen tersebut, sang adik, Andin, terus-terusan diganggu Pocong, serta mengalami banyak kejadian-kejadian aneh lainnya, seperti kemisteriusan sikap pengurus apartemen yang bernama Slamet, jadwal pemadaman listrik bergilir setiap jam 3, bau asap menusuk, dan apartemen yang sepi penghuni.

Maya yang semula tidak percaya, menduga bahwa Andin hanya mabuk berat dan depresi karena orang tua mereka telah tiada. Namun, pocong kembali menghantui hingga Andin menjadi depresi berat. Terdorong untuk menolong adiknya, ia meminta bantuan seorang paranormal utnuk membantunya. Dari sinilah semua teka-teki mengenai keberadaan pocong tersebut mulai terbongkar satu per satu.

Film Pocong 2 direncanakan akan diproduksi tahun 2007, namun, LSF melarang film ini diedarkan karena beberapa alasan, di antaranya terlalu sadis, membuka luka lama tentang kerusuhan yang pernah terjadi, mengandung unsur suku, agama, ras, dan budaya, hingga adegan pemerkosaan yang dianggap berlebihan.

Menurut Rudi, untuk merevisi kembali film Pocong sangat tidak mungkin terjadi, karena film tersebut sudah diatur sedemikian rupa dan keinginan untuk membuat film horor yang berbeda dari film lainnya. Produser film Pocong, Leo pun meminta agar tidak merasa sedih dan marah, tetapi membuat film baru yang lebih baik lagi. Film itulah yang dikenal dengan Pocong 2.

Rudi Soedjarwo, sutradara Pocong 2 mengaku memilih pocong, karena pocong berbaur dengan orang yang sudah meninggal. Dalam agama Islam, orang yang meninggal akan "dipocong".

3. Rumah Dara
Rumah Dara (Macabre) adalah film horor jagal yang disutradarai oleh Mo Brothers dan dibintangi oleh Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai tokoh utama. Film ini berkisah tentang sekelompok muda-mudi yang terjebak di rumah milik seorang pembunuh misterius bernama "Dara". Rumah Dara sekaligus menjadi reuni antara aktris Julie Estelle dan Imelda Therinne yang sebelumnya pernah berkolaborasi dalam film Kuntilanak 3.

Photo Source: https://horrorpedia.com

Keberanian duo sutradara ini mengumbar adegan gore yang berdarah-darah dan penuh dengan potongan tubuh manusia adalah hal yang sangat langka, tidak hanya bagi horor Indonesia, tapi juga horor Asia yang lebih sering memilih pendekatan mistis dan mempermainkan rasa takut penontonnya melalui situasi yang dibuat mencekam. Hebatnya lagi, film ini tidak hanya bermodalkan adegan sadis saja. Tensi ketegangan juga dibangun melalui aura yang ada.

Satu lagi kelebihan utama film ini adalah akting brilian para pemainnya. Mulai dari para korban sampai kelaurga psikopat. Korban ‘penjagalan’ Dara dan keluarganya seperti Julie Estelle, sampai Ario Bayu benar-benar mampu menunjukkan ketakutan yang luar biasa.

Dari keluarga psikopat, Arifin Putra yang berperan sebagai Adam bagaikan mesin pembunuh yang tidak bisa mati tapi tanpa terlihat berlebihan. Lain halnya dengan Shareefa Danish. Meski aksennya sedikit aneh, tapi tidak menurunkan kualitas akting dan tingkat keseramannya. Tatapan matanya sepanjang film sudah cukup meyakinkan para penonton bahwa dia bukanlah manusia normal.

Sebelum ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air, karakter Dara, ‘si tukang jagal’ telah lebih dulu dipopulerkan melalui segmen film pendek berjudul "Dara", film horor antologi "Takut: Faces of Fear" yang juga disutradarai oleh Mo Brothers dan dirilis pada tahun 2008 di festival-festival film di seluruh dunia. Film pendek tersebut tak disangka mendapat begitu banyak tanggapan positif hingga akhirnya Rumah Dara mendapat harapan besar dari para penggemar yang sudah menonton Dara.

Pada tahun 2008-2009, Rumah Dara juga telah dilayarkan lebih dulu di berbagai festival film internasional dan meraih banyak penghargaan. Pada akhir tahun 2009, film ini ditayangkan di Singapura terlebih dahulu dan mendapatkan rating M18 (rating untuk adegan sadis dan kekerasan). Rumah Dara lalu dirilis serempak di seluruh Indonesia pada tanggal 21 Januari 2010. Distribusi film ini ke Amerika Utara dan Eropa telah dibeli oleh Overlook Entertainment.

Rumah dara dicekal dan dilarang untuk tayang di Malaysia, karena dianggap bertentangan dengan hukum sensor film Malaysia. Film ini menjadi film Indonesia pertama yang dicekal dan dilarang tayang di Malaysia.

Meski begitu, film ini mendapat respon yang bagus, dan juga banyak masuk dalam nominasi penghargaan yang didominasi untuk set dekorasi dan performa dari Shareefa Daanish yang memerankan tokoh “Dara”. Dalam Independent Film Award, film ini masuk ke dalam lima nominasi, dan memenangkan kategori Aktris Terbaik untuk Shareefa Daanish. Rumah Dara juga dinominasikan untuk empat kategori lainnya, yaitu Best Supporting Actress untuk Julie Estelle, Best Art Direction - Set Decoration, Best Sound dan Best Score.

4. Danur
Film horor yang dibintangi aktris muda yang tengah ‘naik daun’, Prilly Latuconsina, dan di angkat dari kisah nyata seorang wanita Indigo bernama Risa Saraswati, merupakan bumbu yang cukup membangkitkan kengerian di film ini.

Photo Source: https://merahputih.com

Danur sendiri bukanlah nama tokoh, nama hantu ataupun nama tempat terjadinya kisah nyata di film ini. Danur sendiri berarti bau anyir atau bisa dikatakan bau mayat yang tercium saat hantu datang. Terdengar cukup menakutkan, bukan? Film ini pun dianggap menjadi penanda bangkitnya film horor Indonesia.

Danur mengisahkan tentang Risa, seorang gadis cilik yang lahir di keluarga? yang berkecukupan dan tinggal di rumah neneknya. Ayahnya dinas di luar negeri dan hanya bisa pulang setiap enam bulan sekali. Ibunya, Ely (Kinaryosih), tak hanya sibuk bekerja, tapi juga mengurus sang nenek di rumah sakit.

Karena kesibukan kedua orangtuanya itu, Risa kecil merasa kesepian. Sekilas tak ada yang aneh, paling tidak sampai usianya menginjak 8 tahun. Di hari ulang tahunnya yang ke-8, Risa berdoa agar dirinya memiliki teman. Tepat setelah ia meniup lilin di kue ulang tahunnya, keganjilan-keganjilan mulai terjadi.

Malam itu, Risa kecil bertemu tiga anak laki-laki keturunan Belanda yang sedang bermain petak umpet di lemari neneknya. Mereka adalah Peter, William, dan Janshen. Risa tidak menyadari ada yang berbeda dengan ketiga kawan barunya itu. Beberapa kali dirinya diajak untuk ikut ke dunia mereka, selalu saja gagal. Sampai pada suatu ketika, ibunya yang lantas menyadari keanehan pada Risa, mendatangkan seorang paranormal. Sejak saat itu, Risa tak pernah bertemu lagi dengan teman-temannya.

Sembilan tahun berlalu, Risa memiliki seorang adik bernama Riri. Mereka kembali ke rumah neneknya untuk membantu merawatnya sampai pengasuh pengganti tiba. Setelah kedatangan pengasuh baru, yaitu Asih (Shareefa Daanish), hal-hal yang lebih mengerikan kembali terjadi.

Ketika selama ini dalam benak diri sudah terpuaskan dengan hadirnya film horor luar negeri, melihat film Danur memunculkan perasaan lega, karena tergambar perkembangan film di indonesia secara keseluruhan . Tanpa embel-embel horor komedi erotis, Danur berdiri sendiri sebagai film horor murni yang patut diapresiasi.

Di film Danur, akting Prilly sebagai Risa dewasa juga menyedot perhatian dan dianggap cukup sukses.

5. Pengabdi Setan (2017)
Pengabdi Setan merupakan film horor Indonesia yang rilis pada 28 September 2017, yang disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar. Film ini merupakan pembuatan ulang dari film berjudul sama pada tahun 1980 silam.

Per 7 November 2017, film ini telah ditonton oleh 4.100.468 orang di bioskop, menjadikannya film Indonesia paling laris tahun 2017 sejauh ini. Pengabdi Setan juga menjadi film Indonesia terlaris yang tayang di Malaysia.

Photo Source: http://www.21cineplex.com

Pengabdi Setan bercerita tentang seorang wanita bernama Rini (Tara Basro) yang harus tinggal di rumah neneknya (Elly D. Luthan) di luar kota bersama Bapak (Bront Palarae), Ibu (Ayu Laksmi), serta ketiga adik laki-lakinya, Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat), setelah rumah mereka dijual untuk pengobatan Ibunya yang membuat mereka krisis finansial. Setelah mengidap sakit yang aneh selama 3 tahun, sang Ibu akhirnya meninggal dunia. Setelah kejadian tersebut, Bapak memutuskan untuk bekerja di luar kota meninggalkan anak-anaknya.

Teror mulai muncul saat anak-anak merasa bahwa Ibu kembali berada di rumah bersama mereka. Namun ternyata sosok hantu ibu berusaha menghantui Rini dan adik-adiknya. Situasi semakin menyeramkan ketika mereka mengetahui bahwa Ibu datang lagi bukan untuk menjenguk, tapi untuk menjemput mereka. Rini menemukan fakta bahwa di masa lalu almarhumah Ibu terlibat dalam suatu perjanjian hitam yang mengancam keselamatan keluarga mereka. Rini dan adik-adiknya harus membuka misteri masa lalu untuk tetap hidup.

Sejak menggelar Gala Premiere dan pemutaran spesial, Pengabdi Setan mendapat tanggapan yang baik dari pengamat film. Salah satu pengamat film bahkan mengungkapkan bahwa film ini memberikan level kengerian dengan atmosfer horor yang maksimal. Pengabdi Setan dianggap film horor buatan anak bangsa yang sangat dirindukan oleh para penikmat film horor di Indonesia. Di situs review film Indonesia, Pengabdi Setan bahkan memperoleh skor film sebesar 85%.

Bagi Anda yang sudah menantikan kebangkitan film horor Indonesia dengan cerita dan nuansa yang benar-benar mencekam, maka film ini sangat layak untuk ditonton. Joko Anwar sukses membawakan misteri ke dalam cerita, sehingga penonton selalu bertanya-tanya dan penasaran dengan kelanjutannya.

Pada ajang penghargaan Festival Film Indonesia 2017, Pengabdi Setan masuk ke dalam 13 nominasi. 7 di antaranya berhasil dimenangkan, yakni Pemeran Anak Terbaik untuk Muhammad Adhiyat, Tata Sinematografi Terbaik untuk Ical Tanjung, Tata Suara Terbaik untuk Khikmawan Santosa dan Anhar Moha, Lagu Tema Terbaik untuk Kelam Malam oleh The Spouse, Tata Musik Terbaik untuk Aghi Narottama, Tony Merle dan Bemby Gusti, Tata Efek Visual Terbaik untuk Finalize Studios (Heri Kuntoro dan Abby Eldipie), dan Tata Artistik Terbaik untuk Allan Sebastian.

Rencananya, akan ada sekuel film Pengabdi Setan.