Saturday, November 16, 2019
Tips
Tips

5 Tips Mencegah Hipotermia saat Mendaki Gunung

Spectr News Theme Isny Dewi R.
26, March 2019

Beberapa waktu lalu sempat heboh kabar meninggalnya tiga orang pendaki muda saat hendak mendaki Gunung Tampomas di Jawa Barat. Diduga, tiga pemuda tersebut meninggal karena terserang hipotermia, dan jenazah ketiganya baru ditemukan sehari kemudian di dalam tenda yang sangat tidak layak. Untuk mencegah hipotermia, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan para pendaki. Berikut tips agar tidak terserang hipotermia saat hendak mendaki gunung dilansir dari kompas.com.

1. Kenali Gejala Hipotermia
Umumnya, Hipotermia tak datang secara tiba-tiba dan langsung berakibat kematian. Ada pendaki yang terserang hipotermia dan berhasil diselamatkan. Para pendaki harus mengenali gejalanya, agar tidak semakin parah dan berakibat fatal. Gejala hipotermia antara lain tidak berhenti menggigil, halusinasi, muntah-muntah, bicara melantur, kulit berwarna abu-abu, detak jantung melemah, dan tekanan darah menurun.

Kondisi menggigil terjadi karena kontraksi otot sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Banyak pendaki terutama pendaki pemula yang masih sangat muda tidak sadar akan gejala hipotermia. Mereka biasanya ‘ngotot’ ingin tiba di puncak, walaupun kulitnya sudah berubah warna dan badan mulai menggigil.

2. Suhu Tubuh
Menurut pendaki gunung senior dari Mapala UI sekaligus pemanjat tebing kenamaan Indonesia, Adi Seno, serangan hipotermia tak hanya terjadi pada pendaki gunung es. Hipotermia juga dapat menyerang pendaki yang mendaki gunung di wilayah tropis seperti di Indonesia. Namun yang perlu diketahui, hipotermia tak hanya terjadi karena suhu lingkungan sekitar dan ketinggian, namun juga suhu tubuh pendaki tersebut.

Menurut Adi, hipotermia adalah kondisi saat suhu bagian dalam tubuh di bawah 35ºC. Suhu dalam berbeda dengan suhu luar tubuh atau suhu kulit. Suhu tubuh normal adalah 36,5 – 37,5ºC. Jika kurang, respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh. Itu lah sebabnya, jika suhu tubuh terasa turun drastis, lebih baik mengakhiri pendakian atau setidaknya istirahat dengan cara-cara yang benar.

3. Asupan
Kurang asupan makanan juga menjadi salah satu faktor terjadinya hipotermia yang parah. Meski sedang asyik mendaki dan menikmati keindahan alam, pendaki jangan sampai lupa menjaga asupan makan agar tak mudah lelah dan terhindar dari hipotermia.

Oleh sebab itu, para pendaki sangat dianjurkan untuk membawa roti atau makanan manis lainnya dan menyimpannya di bagian tas atau kantong yang mudah dijangkau. Tak hanya itu, jika serangan hipotermia mulai muncul, pendaki harus diberi minum air putih hangat. Kalau sudah berkurang menggigilnya, bisa diberi makanan hangat.

4. Kondisi Pakaian
Mendaki dengan kondisi pakaian yang basah juga dapat menimbulkan hipotermia. Adi menambahkan, jika terjadi gejala hipotermia, pendaki disarankan mengganti bajunya dengan baju yang bersih dan kering. Setelah itu, segera masuk ke dalam sleeping bag untuk menghangatkan badan. Meski terkesan sederhana, namun hal-hal ini justru sangat penting untuk menghindari serangan hipotermia yang lebih parah.

5. Persiapan
Faktor lain yang sama pentingnya yang juga menyebabkan serangan hipotermia berakibat fatal adalah kurangnya persiapan pada pendaki. Lazimnya, pendaki mempelajari terlebih dulu medan yang akan dilalui, mengecek kondisi cuaca agar tahu peralatan apa saja yang harus dibawa.

Selain karena minim persiapan, banyak pendaki pemula minim pengetahuan akan hal-hal non teknis saat mendaki seperti hipotermia. Hipotermia biasanya terjadi karena kondisi basah dan berangin di tempat yang dingin, medan yang ditempuh tidak terlalu menentukan, justru persiapan dan pengetahuan pendaki tersebut lah yang sangat menentukan.

Isny Dewi R.
Isny Dewi R.
Journalist
Registration