< Community

Berawal dari Keresahan Kini Menjadi Kebanggaan

Berawal dari Keresahan Kini Menjadi Kebanggaan

Community

Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar nama Katulampa? Pasti akan langsung teringat dengan sebuah bendungan yang selalu menjadi sorotan saat musim hujan datang. Tapi, ada sisi lain dari Katulampa yang menarik untuk diketahui. Di sebuah kampung di bantaran Katulampa terdapat sebuah perkumpulan yang menyebut diri mereka Kompak, Komunitas Peduli Katulampa.

Berdirinya Kompak yang didominasi ‘jawara’ muda ini berawal di tahun 2012. Saat itu sekumpulan pemuda di Kelurahan Katulampa membangun sebuah kelompok bernama Kamboja. Namun pada saat itu, kegiatan mereka cenderung tidak positif. Melihat kondisi tersebut, salah satu pemuda di sana, Yanuar, khawatir akan generasi masa depan teman-teman sebaya di kampungnya.

Lalu di tahun 2014, Yanuar mengundang seorang fasilitator bernama Kang Lutfi Kurnia atau lebih akrab disapa Kang Uut untuk membangun kesadaran dan mengajak mereka mendirikan sebuah komunitas. Meski awalnya rekan-rekan Yanuar enggan mendengar pengarahan dari Kang Uut, tapi pelan-pelan mereka mencoba mendengarkan dan mulai melakukan kegiatan positif. Awalnya kegiatan yang mereka lakukan adalah bersih-bersih dan mulai semangat ketika warga yang biasanya acuh terhadap para pemuda ini ikut mendukung kegiatan mereka. Banyak warga yang membantu, mulai dari memberikan makanan, sumbangan buku, bahkan menyediakan tempat untuk berkegiatan.

Bagi mereka, kini berkegiatan di kampung menjadi semakin menyenangkan, meski lelah, tapi senyum dari warga untuk mereka seolah melunturkan semua rasa lelah itu. Kegiatan menata kampung, bersih-bersih, hingga dipercaya oleh warga untuk mengelola berbagai acara menjadi kegiatan rutin Kompak.


Photo Source: @kompakofficial

Selain saung, komunitas ini juga memiliki perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun. Kegiatan mengambil sampah dari warga dan di sungai demi mengurangi sampah merupakan kegiatan rutin mereka tiap Minggu. Kini, Kompak tidak hanya dipercaya menata kampung, tapi juga dipercaya mengelola usaha untuk kemandirian Kompak. Dari mulai menjual kopi, baju, hingga karya kreatif mereka dari hasil daur ulang.

Mereka berharap semoga Kompak bisa terus menjaga kekompakan dan bermanfaat bagi siapa saja, serta usaha yang mereka jalankan juga berkembang agar dapat membantu perekonomian anggota Kompak yang didominasi anak-anak putus sekolah.